Pertama kali yang membuat saya tertarik untuk me-review buku “Summerhill School” karya A.S Neill adalah ketika saya tersadar bahwa saya pernah menjadi anak-anak dalam keadaan pendidikan yang sangat memprihatinkan.
Pada awalnya saya melihat buku ini di suatu toko buku dan membelinya hanya karena sampul atau cover depan buku ini yang menarik. Anggapan bahwa don’t judge book from its cover ternyata tidak sepenuhnya benar. Karena setelah saya membaca buku tersebut, tidak hanya sampulnya saja yang menarik, tetapi isinya pun juga tidak kalah menarik.
Saya mungkin juga seluruh orang di dunia (atau mungkin akan saya lebih minimalkan) di
Dalam buku “Summerhill School” ini, menceritakan tentang sebuah sekolah yang bernama Summerhill yang didirikan oleh A.S Neill pada tahun 1921 di Jerman dan kemudian pindah ke Inggris. Summerhill merupakan sekolah umum berasrama untuk anak usia TK sampai SMA. Yang membuat buku ini menjadi menarik adalah ketika Neill menceritakan bahwa sekolah yang ia beri nama Summerhill tersebut memiliki pendidikan yang bersifat membebaskan muridnya. Muridnya dibolehkan membolos, boleh merokok, boleh mengumpat, boleh bermain sepanjang hari dan tidak mengerjakan PR, boleh melakukan apa saja yang muridnya senangi, tidak ada peraturan yang mengekang seperti di sekolah-sekolah pada umumnya selama mereka tidak mengganggu orang lain. Cukup unik karena ketika banyaknya guru yang membusungkan dada dan mengangkat kepalanya tinggi-tinggi dengan angkuhnya, di Summerhill School justru berbeda.
Membaca buku ini membuat saya bernostalgia dengan masa lalu ketika saya masih bersekolah dan menjadi seorang murid. Berkaca pada pengalaman saya sebagai murid selama 12 tahun. Saya tidak pernah berada dalam keadaan sekolah yang sangat bebas. Walaupun ketika SMA, saya sedikit mendapat ruang bergerak di dalam sekolah. Namun tetap saja semua cara dan metode dalam memberikan pengajaran seorang guru akan tetap sama. Selama ini saya mungkin juga semua murid merasa bahwa sekolah bukan lagi suatu kebutuhan tetapi suatu kewajiban yang harus dilakukan. Karena perasaan semacam itulah yang membuat penilaian bahwa sekolah itu terasa sangat membosankan. Setiap ada jam kosong semua murid pasti akan menyambutnya dengan gembira. Seperti tahanan yang baru saja mendapat pengampunan hukuman dan dibebaskan.
“Summerhill School” berbeda dengan sekolah umum lainnya. Sekolah ini benar-benar menyuguhkan suasana sekolah yang sangat mengasikan dan menyenangkan. Summerhill merupakan sekolah swakelola, sekolah yang demokratis. Para muridnya berhak menentukan aturan yang berlaku di sekolah tersebut dan mendiskusikannya setiap seminggu sekali dalam suatu pertemuan yang mereka sebut ”Rapat Umum”. Dalam rapat umum ini, para murid akan mendiskusikan tentang beberapa hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan dan apa sanksinya jika ada yang melanggar. Mereka melakukannya dengan cara voting dan musyawarah. Setiap orang memiliki bobot suara yang sama. Baik anak umur 7 tahun maupun Neill yang sebagai kepala sekolah pun memiliki hak suara dan bobot suara yang sama. Dalam sekolah ini tidak ada otoritarianisme. Tidak ada yang berhak memaksakan kehendak satu sama lain. Baik antara sesama murid atau juga dengan staf pengajar. Sekolah ini tampak seperti sekolah impian semua murid. Di sana tidak hanya diajari pelajaran-pelajaran tentang aritmatika atau pengetahuan alam, namun lebih dari itu. Yaitu tentang sosialisasi dan realita kehidupan.
Neill menuturkan bahwa anak-anak membutuhkan suau kebebasan buat suatu kekangan dan keotoriterian. Anak-anak butuh kasih sayang dan perhatian tidak hanya sekedar bentakan dan cemoohan karena ketidak tercapaiannya keinginan orang tua. Neill juga mengatakan bahwa sekolahnya itu sebenarnya tempat penyembuhan anak-anak yang di sekolahnya dulu merasa terkekang dan dianggap bermasalah. Penyembuhan dari ketidakbahagiaan.
Hal ini kemudian membuat saya mengenang masa ketika saya bersekolah dulu. Saya bersekolah di SMP favorit yang memiliki murid (menurut para guru) pintar. Karena label ”pintar” inilah yang mungkin dijadikan alasan para guru untuk mengajar murid dengan gaya semaunya. Walaupun saya tidak men-generalisasikan bahwa semua guru bersikap seperti itu namun ketika itu saya merasa bahwa guru sudah tidak lagi sebagai pengajar dan pendidik melainkan hanya sebgai pengajar saja yang tidak bisa mendidik. Beberapa kali selama saya menjadi murid saya menjumpai guru yang lebih suka mengoceh di depan kelas tanpa memperhatikan suasana yang terjadi di dalam kelas tersebut. Ada juga tipe guru yang hanya suka menulis di papan tulis dan tidak pernah melihat muridnya apakah mencatat atau tidak, sudah mengerti apa belum. Guru seolah-olah tidak peduli dengan murid. Bukannya memberi kebebasan tapi sikap tidak peduli dan anggapan bahwa semua murid pasti pintar dan sudah paham dengan apa yang ia terangkan. Yang saya ingat ketika itu adalah teman sekelas saya justru asik membaca komik di bawah meja mereka daripada mencatat yang tertulis di papan tulis yang sebenarnya sudah ada di dalam buku modul yang telah disediakan.
Jika melihat dari realita yang ada Summerhill seakan seperti sekolah yang hanya ada dalam impian. Sangat menyenagkan rasanya membayangkan bersekolah di Summerhill. Sebenarnya Neill membangun sekolah ini dengan berbagai pendekatan psikologi terhadap anak. Ini lah yang membuat Summerhill menjadi sukses. Neill, sangat paham bahwa anak-anak memiliki imajinasi dan fantasi yang tinggi. Ketika ada seorang anak berbohong bahwa ia memiliki mainan mobil yang mahal yang dibelikan oleh ayahnya. Neill, akan mengatakan bahwa mainan itu telah ia lihat tadi pagi. Dan anak itu tertawa lalu berkata bahwa sebenarnya ia berbohong. Neill melakukan hal tersebut karena menurutnya fantasi anak-anak yang masih polos itu jangan dirusak begitu saja. Selain itu, banyak hal yang membuat anak merasa terpojok dan merasa takut karena mereka diasuh dengan sejumlah kebohongan dan larangan-larangan yang tidak masuk akal. Seperti, larangan untuk memanjat pohon karena nanti akan di gondol wewe (sejenis makhluk halus yang digambarkan oleh para orang tua untuk menakut-takuti anak-anak mereka). Hal tersebut tentu akan berpengaruh buruk bagi perkembangan si anak ketika ia dewasa.
Sebagian besar murid-murid yang dimasukkan ke Summerhill adalah anak-anak yang dianggap bermasalah di sekolahnya terdahulu, anak-anak ”pemalas” dan anak-anak yang memiliki latar belakang keluarga yang otoriter. Summerhill dibangun pada awal abad 19. Dengan setting dimana perang dunia sedang berlangsung. Bagaimana cara orang tua mengasuh anaknya pada masa itu sangat lah jauh jika dibandingkan dengan saat ini. Pada masa itu otoriter orang tua mungkin masih terasa berbeda dengan pada masa sekarang. Cara pendidikan yang diberikan di sekolah-sekolah mungkin juga sudah berbeda. Neill juga mengakuinya sehingga ia mulai memahami bahwa sebenarnya Summerhill juga memiliki kekurangan yang tidak bisa teratasi. Ketika jaman telah berubah, pendekatan psikologis yang dipakai Neill terlihat menjadi sangat kuno. Seperti contoh, ketika ada anak yang suka mencuri kemudian Neill menghadiahinya sejumlah uang agar anak itu merasa tidak enak dan mengakui kesalahannya sudah mudah terbaca. Cara tersebut akan mudah terbaca, bahwa Neill melakukan itu hanya sedang melakukan pendekatan psikologi terhadap anak tersebut. Kemudian muncul banyak hal juga yang sulit untuk diterapkan di masa sekarang apalagi model pengajaran seperti Summerhill tentu saja tidak dapat diterapkan di Indonesia. Karena kurikulum semua sekolah di Indonesia harus sesuai dengan kurikulum pada saat itu. Seperti sistem GBPP 1994 dan kurikulum baru yang berbasis kompetensi. Walaupun nama atau cara penilaian setiap sistem kurikulum itu diganti tetapi model pengajaran guru tetap saja tidak berubah. Masih membosankan, penuh bentakan dan setiap mengikuti pelajaran akan diisi dengan ketakutan para murid terhadap guru. Selain itu Indonesia sangat menjunjung tinggi ijazah. Begitu mahalnya sebuah ijazah di Indonesia. Apakah itu beli atau benar-benar ijazah asli, tidak ada yang benar-benar tahu. Tentu hal ini sangat bertolak belakang dengan ide Summerhill (sekolah yang membebaskan). Sedangkan masalah ujian nasional saja masih diperdebatkan sampai sekarang.
Comments
apik tho!