Hampir Habis

Orang bilang, umur 20an adalah umur dimana kita –manusia, sedang berada pada titik pengen mencoba segala hal, pengen bebas, pengen berambisi dan pengen berinovasi. Nggak jarang juga pada umur 20an, manusia berada pada titik galau terendah dalam hidupnya. Sama seperti saya. Galau disini bisa bervariasi, nggak selalu persoalan cinta-cintaan melulu ya. Bisa jadi galau karena akademis, karena pekerjaan, karena hidup yang biasa-biasa aja, karena.. oke ini lanjut dikit langsung curhat.

Banyak banget yang mengulas persoalan dekade umur keramat ini, bahkan tiap buka sosial media, kebanyakan timeline berisi artikel tentang “11 Pesan Penting Untuk Kamu Yang Berumur 20an”, “Beberapa Hal Yang Harus Diperhatikan Selagi Masih Muda”, “Lakukan Sesuatu Untuk Masa Mudamu”, dll. Menurut pemikiran asal-asalan saya, nggak mungkin artikel semacam itu banyak diulas kalau memang tidak ada masalah dengan kegalauan masa muda 20an. Dalam bacaan literatur psikologi yang pernah saya baca, manusia mengalami tahap perkembangan umur setiap 7 tahun sekali. 7 tahun pertama masa pertumbuhan, 7 tahun kedua masa kanak-kanak, 7 tahun ketiga masa remaja, 7 tahun keempat adalah masa transisi. Dimana-mana namanya transisi atau perpindahan pasti butuh effort lebih, menguras banyak pikiran, adaptasi terhadap kehidupan. Bisa dibilang -menurut asumsi saya ya lagi-lagi, memang entah takdir, entah secara biologi, psikologi atau ilmu apapun itu memang umur 20an merupakan tantangan manusia menghadapi kehidupan nyata.


Orang bilang hidup itu pilihan, yang lain lebih suka menyebutya sebagai perjuangan. Entah lah. Bagi saya hidup itu bersyukur. Seni bersyukur. Saya sedang mempelajari seni bersyukur ini. Teorinya, kita akan bersyukur dan menerima apa yang telah Tuhan beri setelah kita usaha seoptimal mungkin yang bisa kita lakukan. Ketika kita merasa ini kurang, kenapa begini dan kenapa begitu, maka saatnya kita mencari rasa syukur itu kembali. Bukan dengan mengeluh, bukan dengan mengutuk, apalagi meratapi nasib. Jika memang tidak optimal, lakukan yang terbaik. Selagi masih muda, selagi masih ada umur, selagi masih bisa excuse karena masih di dekade umur 20an, dan selagi waktu belum habis.

Comments