Ditinggalkan dan Meninggalkan

2015 adalah tahun yang cukup sulit bagi beberapa perusahaan di Indonesia. Kurs dollar amerika yang terus melambung tiap harinya, menjadikan nilai tukar rupiah terhadap dolar kian menurun. Performa negara yang sedang lesu ternyata berdampak pada jumlah investor termasuk uang masuk dan uang keluar dari dan ke Indonesia. Ini pun dialami para pekerja di kantor. Akibatnya karyawan yang berharap banyak pada kenaikan gaji karena inflasi dan bonus tahunan menjadi tak bergairah bekerja karena semua angka serba dipangkas tapi beban kerja malah makin meningkat. Miris sebenarnya, apalagi bagi kami yang hidup di Jakarta. Uang seribu rupiah itu sudah cukup berharga. Kesulitan perekonomian ini menimbulkan dampak, banyak keluar masuknya karyawan.

Begitu pun yang aku rasakan beberapa bulan terakhir dimulai dari akhir tahun 2014 lalu hingga kini. Rasanya sedih ditinggal teman yang biasa nongkrong sambil menggosip sana sini. Satu persatu pergi mencari angka baru di luar sana. Hidup mungkin begitu. Kita tak bisa begitu saja loyal dengan sesorang apalagi dengan perusahaan. Passion dan keinginan semasa kuliah pun jadi bukan hal yang utama ketika semua itu bermuara pada uang. Uang sebagai benda yang akan memenuhi semua kebutuhan. Entah kebutuhan atau keinginan, yang pasti akhirnya passion terkalahkan dengan pemenuhan kebutuhan yang memang dirasa sangat membebani hari demi hari.

Satu persatu orang jadi saling meninggalkan dan merasa ditinggalkan. Pasangan yang sudah lama pacaran akhirnya putus karena merasa cowoknya tidak cukup mapan, karyawan mengundurkan diri karena gaji yang tak bisa lagi memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Orang datang dan pergi seolah-olah menjadi hal yang tidak luar biasa lagi. Begitu pun dalam kehidupan ini. Semakin tau, umur bertambah, semakin sering kita merasa ditinggalkan dan tanpa disadari sebenarnya kita pun juga meninggalkan. Para sahabat, teman dan kesenangan pun juga pergi meninggalkan. Nggak ada lagi waktu untuk bermain bahkan tertawa dengan lepas. Aku merasa tak ada lagi waktu untuk berlibur atau sekedar duduk di café langganan bersama sahabat untuk saling mencaci dan becanda. Tanpa aku sadari waktu juga sudah jauh berlari dan meninggalkan orang-orang yang lambat dan tak mampu mengejarnya.


Move on! Kalimat yang jamak dipakai saat ini. Move on dalam hal apa? Pekerjaan? Cinta? Atau untuk uang sebagai pemuas keinginan? Kalau memang nyaman kenapa harus meninggalkan? Kenapa nggak coba untuk mensyukuri dan mencari celah bagaimana tetap nyaman tanpa harus pergi meninggalkan. 

Comments