Dari mulai Bangkok, Nepal,
Jepang, Korea, Singapura, Malaysia, Bali , Lombok, Raja Ampat, Wakatobi, hingga
Tanjung Puting menjadi destinasi wisata laris dalam beberapa waktu belakangan
ini. Semua orang pengen liburan, piknik, jauh dari persoalan, deadline, kerjaan
yang nggak ada capeknya menghantui. Semua orang butuh relaksasi dari rutinitas
yang terus membelenggu.
Beragam maskapai
penerbangan domestic maupun asing pun sepertinya mengerti keterbelengguan
masyarakat pada rutinitas, mereka pun akhirnya berlomba-lomba memberikan tiket
promo pesawat termurah tiap waktu. Aku sempet kaget sih karena tiket pulang
kampung ke Jogja harganya jauh lebih mahal dibanding tiket ke Singapura. Apa-apaan!
Ngomong-ngomong soal traveling, ternyata banyak temanku yang
menjadikan traveling sebagai obat
penyembuh rasa sedih akibat patah hati atau rasa galau tentang jati diri.
Beberapa kali aku ketemu teman-temanku dan mendengar cerita mereka, rata-rata mereka merasa traveling bikin mereka jadi lebih bebas, lebih merasa dicintai
(sama diri sendiri minimal), dan lebih terbuka sama orang lain. Aku pun dulu
pernah ada di fase traveling sebagai
penyembuhan dari rasa sakit. Stupid
journey namanya. Konsepnya sederhana. Pergi ke suatu tempat tanpa
direncanakan terus nemuin hal baru, ketawa karena banyak kesasar, dan tantangan
jalan pulang yang katanya orang pulang terasa lebih singkat tapi ini justru
kebalikannya, jalan pulang terasa lebih jauh karena pake acara kesasar.
Aku merasa salut sih sama
beberapa temanku yang ngabisin gajinya untuk keliling Indonesia bahkan dunia karena
masih belum bisa melupakan bayangan mantan dan berharap bayangan mantan bakal
hilang tertinggal di batas laut terdalam saat dia menyelam di Raja Ampat atau
terkubur di balik gunung Rinjani atau berharap semua kenangan bakal habis
dimakan komodo.
Ada lagi temanku yang lain,
rela kerja sampai ke tanah Papua tanpa sinyal berbulan-bulan, mengurus tambang
entah milik siapa, meruntuhkan segala akal sehat tentang pelestarian lingkungan
(yang aku tau dia selalu protes ke perusahaan tambang perusak lingkungan saat
masih kuliah dulu). Dan konyolnya itu semua untuk menyembuhkan bayangan tentang
pedihnya masa lalu bersama mantan.
Mantan ini efeknya
ternyata lebih serem dari letusan gunung api ya. Jangan-jangan perusahaan besar
di Papua sana pemiliknya dulu juga mencoba melupakan mantan sampai ke tanah
Papua. Emosi terus bikin tambang seenak jidatnya, merusak alam sekitarnya, dan
gila debat sama masyarakat di sana seolah-olah masyarakat di sana adalah dengungan
kata-kata protes dan makian dari sang mantan? (fixed kalau yang ini ngaco sih).
Traveling
arti bahasanya sih melakukan suatu perjalanan. Perjalanan kayak apa? Untuk apa?
Semalem abis ketemu Deena (sob dari jaman kuliah dulu) ngobrol sana sini, bahas
sana sini dan layaknya perempuan pada umumnya kami pun ngegosip sana sini.
Sampai pada pertanyaan, “Tujuan lo liburan kali ini apa?”
Berawal dari pembahasan
tentang aku yang bentar lagi mutusin buat nikah dan akan menikahi cowok yang
susah cuti buat diajakin jalan-jalan, akhirnya aku putusin buat melakukan
perjalanan pra nikah. Oke well perjalanan pra nikah itu tujuanku. Bukan berarti
nikah nggak bakal lagi bisa jalan-jalan, tapi jalan-jalan dengan konsep stupid journey ku mungkin bakal
berakhir. Mungkin suatu saat nanti aku traveling
bukan untuk penyembuhan, bukan juga untuk mencari jati diri atau ketenangan
diri. Bisa jadi nanti aku traveling
untuk bener-bener liburan. Ketawa sama anak-anak dan mencoba menjawab
pertanyaan polos mereka tentang, “Bu, kenapa pasir pantai warnanya putih?” dan
“Kenapa gunung itu tinggi tapi banyak orang suka mendaki?”
Comments