Punya profesi sebagai seorang jurnalis, ehmm atau lebih tepatnya broadcaster atau entah aku harus menyebutnya apa profesi ku ini, pasti nggak akan jauh dari yang namanya ketemu orang. Apa yang dilakukan saat bertemu mereka? Yang pasti harus kepo. Bahkan aku menyebut diriku sebagai kepoters. Nggak salah juga sih saat orang-orang bilang kalau pekerjaanku ini seperti pekerjaan yang selalu ingin tahu, kepo, ngeganggu privasi orang, tapi mau gimana lagi. Tiap tahun kami harus selalu memenuhi penilaian QPI dan ke kepo-an kami ini bernilai cukup tinggi di mata perusahaan.
Selama 5 tahun bekerja, ada ratusan orang yang sudah mengalami ke kepo-an ku dan rela ditanyai macem-macem. Dari mulai urusan negara, dalam negeri, luar negeri, resep dapur, perkembangan sosial dan budaya, tradisi, hingga persoalan sangat sepele kayak gimana caranya ngorek kuping yang benar.
Dari sekian banyak orang, meski semua spesial tapi tetep aja ada yang masih ngebekas sampai sekarang. Nah dan ini beberapa orang yang pernah merasakan pengalaman diinterview oleh aku sang kepoters.
1. Jusuf Kalla
Bapak Jusuf Kalla merupakan sosok pejabat yang humble. Bikin siapapun yang dekat dengan beliau merasa nyaman. Bahkan bagiku yang saat itu masih awal masuk ke dunia per-kepoteran ini. Mulai pertanyaan tentang persoalan pendidikan di negeri ini yang tak kunjung menuai titik temu sampai obrolan santai nggak penting di kebun belakang rumah beliau. Lepas dari sorotan kamera, pemberitaan dan menjaga image, beliau merupakan sesosok kakek yang baik. Aku waktu itu sangat merasakan beliau menjadi kakek yang mengayomi dan memberikan wejangan tentang kehidupan. Nggak nyangka ternyata beliau suka rumpi macem-macem juga.
Tips Wawancara Pejabat:
Sebelum kita ketemu, wajib hukumnya baca-baca tentang narasumber. Kalau bisa sampai tahu cerita pribadi. Paling nggak dengan gitu kita pas interview nggak kaku. Karena kadang kita malah dapet banyak info penting kalau si narsum mulai nyaman sama kita. Intinya sih bikin suasana interview jadi suasana ngobrol santai. Meski cuma off the record tapi tetep aja info-info ini cukup pentin buat bahan hosipan bareng temen-temen. Hihihi..
2. Semua kepala suku, kepala daerah, di luar Pulau Jawa.
Hampir semua pengalamanku interview tokoh atau pemuka daerah berujung pada nasib yang sama. Akhir tahun 2011 adalah awal kerja sebagai seorang jurnalis televisi. Baru 3 bulan kerja, udah ditugasin ke Papua. Tepatnya ke Suku Asmat, liputan tentang pesta adat ukiran asmat. Annual festival yang katanya pernah didatangi sama pasangan Brad-Jolie dan pemusik Mike Jagger. Meski waktu itu aku nggak ketemu artis luar negeri papan atas, tapi tetep aja bule bule pemburu ukiran khas suku Asmat betebaran dimana-mana. Produserku langsung buru-buru briefing dan nyuruh aku buat wawancara para bule. Ada petinggi WWF, Professor dari Minnesota, dan petinggi di keuskupan. Selain itu juga ada agenda aku harus wanwacara bupati asmat, kurator museum di Asmat sampai warga asmat peserta festival budaya. Oke wawancara orang bule pasti donk ya pake Bahasa Inggris, lha kalau wawancara orang Asmat? Pake Bahasa Indonesia? Salah! Pake Bahasa Indonesia dengan dialek Asmat. Pala mendadak pusing, pikiran mulai ngawang, wawancara 30 menit yang ngerti Cuma 10 menit awal doank. Sisanya blank.
Tips:
Wawancara ke daerah Indonesia yang sangat amat jauh dari pulau Jawa dan sangat jauh dari kota. Jauhkan pikiran bahwa Bahasa Indonesia adalah Bahasa ibu yang bisa dimengerti seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Karena meski mereka pake Bahasa Indonesia tapi tetep mereka punya dialek daerah yang nggak bisa lepas. Triknya adalah berkawan dulu sama mereka. Main ke tempat tongkrongan mereka, sampe akhirnya kita mulai bisa sedikit-sedikit Bahasa daerah mereka. Karena kejadian ini nggak Cuma aku alamin pas liputan ke Papua. Pas aku ke Mentawai, ke suku pedalaman di Pulau Seram, ke suku pedalaman di entah mananya Sulawesi Selatan, Ambon, kota kecil di Talaud sampai ke Singkawang di Kalimantan. Khusus untuk Singkawang, alangkah baiknya kalau bisa sedikit Bahasa cina kek. Seperti penyebutan nominal uang. Keahlian untuk tau gopek, seceng, gocap, goban, noban dan cepek itu sangat membantu. Karena kebanyakan pemilik warung di sana nggak bisa Bahasa Indonesia. Subhanallah kan ya sodara-sodara.
Wawancara ke daerah Indonesia yang sangat amat jauh dari pulau Jawa dan sangat jauh dari kota. Jauhkan pikiran bahwa Bahasa Indonesia adalah Bahasa ibu yang bisa dimengerti seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Karena meski mereka pake Bahasa Indonesia tapi tetep mereka punya dialek daerah yang nggak bisa lepas. Triknya adalah berkawan dulu sama mereka. Main ke tempat tongkrongan mereka, sampe akhirnya kita mulai bisa sedikit-sedikit Bahasa daerah mereka. Karena kejadian ini nggak Cuma aku alamin pas liputan ke Papua. Pas aku ke Mentawai, ke suku pedalaman di Pulau Seram, ke suku pedalaman di entah mananya Sulawesi Selatan, Ambon, kota kecil di Talaud sampai ke Singkawang di Kalimantan. Khusus untuk Singkawang, alangkah baiknya kalau bisa sedikit Bahasa cina kek. Seperti penyebutan nominal uang. Keahlian untuk tau gopek, seceng, gocap, goban, noban dan cepek itu sangat membantu. Karena kebanyakan pemilik warung di sana nggak bisa Bahasa Indonesia. Subhanallah kan ya sodara-sodara.
3. Wawancara Anak - Anak
Anak - anak di sini maksudnya rentang umur 5-12 tahun. Wawancara mereka sama aja kayak wawancara sama angin. Jawabannya nyaris ga terdengar. Cuma hembusan angin doank. Paling banter dijawab dengan senyuman. Kadang mereka cuma jawab, "Ya gitu deh."
Udah kayak pembaca pikiran kalau wawancara anak-anak.
Tips:
Jangan pernah ngajuin Yes - No Question. Bisa mati kutu dan jangan ngarep ada yang bantuin saat kita ada di posisi ini karena sang cameraman cuma bisa ngetawain di samping kalian terus mulai perlahan pergi sambil bisikin kalimat sakti, "Ntar kalau elo udah kelar wawancara langsung pencet stop aja. Gue tinggal ngerokok dulu."
Ini beberapa pengalaman mewawancara. Namanya kerja pasti nggak selamanya mulus. Sepassion-passion nya sama kerjaan, pasti jenuh juga. Wajar sampai keinginan resign pun jadi bahan becandaan di kantor. Contoh becandaan garing yang bikin miris,
Temen: abis dari mana siang amat datengnya?
Aku: wawancara di Pertamina.
Temen: diwawancara atau mewawancara nih?
Kzl!
Well, salah satu pengalaman diwawancara yang paling berkesan adalah saat diwawancara sama Christian Sugiono. FYI, bos ku di kantor sekarang orangnya baik setengah mati. Walaupun dia bos, tapi jujur aja dia adalah orang yang bisa diajak ngobrol ngalor ngidul bahkan temen nonton bioskop dan temen nongkrong yang menyenangkan. Cuma kalau dibanding sama Christian Sugiono, ampun ampun deh jauuuh bangeeettt. Tampangnya yang satu bikin adem, yang satu lagi bikin pengen nyela.
Singkat cerita, Christian Sugiono punya perusahaan *mungkin pada tau kali ya perusahaannya apa* dan aku coba-coba kirim cv. Nggak lama aku dipanggil interview. Emang bener sih adem banget kalau sampe jadi masuk ke kantornya punya bos macem dia siapa yang nggak betah lembur-lembur juga dijabanin.
Tips diwawancara:
1. Meski bosnya ganteng tetep harus perhatiin kerjaannya bakal madesu apa bermasa depan cerah.
2. Kesejahteraan karyawan tetep no 1
3. Passion. Jangan lupa tetep pada jalurnya kalau nyari kerja jadi jangan asal tergiur poin 1 dan poin 2.
4. Tetap cool, tetep fokus dan tetep menjawab pertanyaan apa adanya. Kadang kalau jawabannya lebay pewawancaranya males juga.
5. Terakhir kalau punya porto folio jangan lupa dipamerin ke calon bos baru.
Sampai tulisan ini diterbitkan, aku masih pada tahap "mewawancara" dan belum ada yang berniat manggil aku buat "diwawancara". Siapa tau kan abis tulisan ini dipost ada yang tertarik *ngarep to the max.
Comments