Realitas Berbanding (sangat) Terbalik dengan Drama Korea


Lee Min Ho, Jang Geun-suk, Yong Jung Hwa, Choi Siwon, So Ji Sub, Hyun Bin, dan Kim Bum…

Siapa coba penggemar serial drama korea yang nggak tahu nama-nama di atas? Ganteng (meski kalau diperhatiin lebih detail lagi mereka lebih cocok dibilang cantik daripada ganteng), lucu, nggemesin, bikin susah makan, bikin susah tidur. Bagi para pemuja kisah dongeng, versi drama korea ini bahkan bisa ngalahin karya-karya H.C Andersen.

Pernah nggak sih ketika kita mulai nonton episode 1 drama korea, tiba-tiba jadi candu ke episode 2, terus lanjut ke episode 3, sampe abis, terus jadi zombie nggak bisa tidur gara-gara marathon nonton drama korea? Selain cowok berparas ayu dan cewek cantik bego, apa kira-kira yang bikin orang bisa addict nggak ketulungan sama drama korea?

Kebetulan aku berada di sekeliling orang Korean drama’s addict. Mereka bisa segitunya suka, segitunya ngefans, segitunya tergila-gila sampai mereka terkadang makin mejauh dari kehidupan nyata dan mulai hidup di dalam bayang-bayang cerita drama korea yang mereka tonton. Segitu besar dampak dan pengaruhnya ke para penonton serialnya. Dan sialnya, I’m the one of them! Yap I’m Korean Drama’s addict also. Pathetic.

Dari pengalaman pribadi dan observasi langsung para pemerhati drama korea, aku sering banget ketemu sama orang yang bahkan cara dia mengambil keputusan di kehidupan nyata terpengaruh dari drama korea. Contohnya ni pas berantem sama suaminya, dia jadi lebih reaktif dan emosian, ngambekan persis kayak gaya drama korea. Aku sempet terlibat conversation bareng dia soal acara ngambek ala ala drama korea ini.

Dia: gue kesel sama suami gue. Tau dia salah, bukannya minta maaf malah nyuekin gue. Kan gue kesel.
Aku: lha emang gimana? Awalnya kenapa?
Dia: itu pas gue lagi liburan bareng sekeluarga ke Singapura masak dia beliin oleh-oleh temen kantornya cewek sama persis kayak barang yang dia kasih ke gue. Kesel ga coba!? Terus gue ngomel dia malah diem ngejauh. Pas gue tanya kenapa jauh dia jawab katanya gue lebih seneng didiemin dulu kalau lagi berantem. Emang sih. Tapi kan baik-baikin gue kek. Kejar gue kek pas gue kabur naik MRT sedirian ditengah kota.
Aku: *manggut-manggut aja takut dikeplak

Padalah sebenarnya ada banyak hal yang lebih mudah dilakukan daripada dikhayalin. Kayak kasus itu. Bisa aja kan diomongin baik-baik nggak perlu pake merengut berhari-hari, terus minta upeti tanda maafnya cincin berlian?

Ada lagi orang yang kisah cintanya makin lama makin mirip drama korea. Berbelit-belit, penuh khayalan yang nggak mungkin, terus galau sendiri. Dia jadi nggak bisa pake logika buat cinta sama orang (walaupun kata Agnes Monica kalau cinta emang tak ada logika sih). So complicated. Mulai dari dia mikir dia kurang cantik, kurang sholehah, kurang perhatian, sampai ke urusan ego. Ujung-ujungnya pas aku tau dia lagi nonton drama korea apa, terus aku tonton drama nya, ceritanya persis banget sama apa yang temenku ini khawatirkan. Soal pemikiran tentang cowoknya, kegalauan asmaranya. Ya Tuhan!

Hidup ini nggak sesepele drama korea if you realize. Cewek jelek bego terus dengan kondisi tidak sengaja ketemu sama cowo ganteng kaya. Berawal dari nggak suka, atau pura – pura nggak suka terus berujung saling cinta. Mereka pacaran lamaaaa banget (3 episode lumayan lama lah ya). Terus pas udah sama-sama manteb mau nikah eee ada emaknya si cowok nggak setuju karena menganggap si cewek beda kelas sosial sama keluarga dia. Mulai deh tu intrik-intrik bikin galau dan jangan lupa kasih ujan-ujanan dikit biar makin galau. Setelah sedemikian berjuang atas nama cinta, setelah puluhan kembang mawar tercabut dari batangnya, setelah 15 episode penuh deru penderitaan, maka yang ditunggu-tunggu adalah episode 16 yang akhirnya mereka disetujui, terus nikah. End!

Plot nya semua mengarah ke pelaminan. Simple.

Apakah hidup bener-bener cuma sesimpel itu?

Aku pun ngalamin yang namanya galau terus nangis sepanjang malam sampe kebawa mimpi padahal semua itu cuma cerita drama doank. Nggak nyata. Entah kenapa tapi bisa berpengaruh sampe kepikiran. Apa aku nya yang terlalu baper *bawa perasaan*?

Realita kehidupan ini keras, banyak tuntutan, penuh polusi dan menghabiskan banyak waktu tempuh untuk melalui kehidupan yang keras ini. Mungkin aku dan para pecinta serial drama korea lainnya mulai jenuh dengan kehidupan asli kami. Kerja setiap hari, deadline nggak ada abisnya, persoalan financial yang nggak akan pernah bikin kita merasa cukup puas, kehidupan asmara yang terselip ditumpukan pekerjaan yang menguras tenaga. Kalau kata Mario Teguh, manusia itu hidup harus balance. Seimbang. Biar nggak merasa berat sebelah, mengalahkan yang satu untuk menutup satunya lagi. Drama korea ini sedikit banyak membantu kami berkhayal, mem-piknik-an pikiran kami dari rutinitas kehidupan harian yang kita jalani, dan sering pula cerita-cerita di drama korea nyerempet (meski Cuma 5%) ke pemikiran-pemikiran umum individu yang akhirnya menstimulasi otak kita berpikir seolah-olah itu terjadi pada kehidupan asli kita. Nggak ada satupun manusia yang nggak pengen bahagia, begitu sebaliknya tanpa mereka sadari manusia juga membutuhkan kesedihan sebagai penyeimbang kegembiraan.

Serial drama korea ini membuat hidup ini jadi penuh liku, banyak rintangan, dari 1 episode ke episode lainnya. Dari 1 tahun ke tahun berikutnya. Serial drama korea mampu menyelesaikan 1 kehidupan dalam tempo 16-20 episode. Cukup singkat. Menyadarkanku juga bahwa hidup ini terlalu singkat untuk diisi dengan tambahan efek drama. Makanya Tuhan menciptakan logika. Logika ini lah penyeimbang hidupku. Hidup asliku yang sudah cukup drama tersingkirkan sementara gara-gara Lee Min Hoo yang gantengnya nggak ketulungan. Logika ku pun menyadarkanku bahwa setelah episode terakhir, kita harus siap kembali ke jalur dan memulai hidup normal lagi seperti sebelum episode 1 dimulai.

Comments