KETIKA CINTA BERTASBIH DAN AKU NGGAK PERNAH #3

Heyho! Iyee aku tau ini udah lamaaaa bangeeeet dr terakhir kali nyoret-nyoret makian, cerita konyol, dan hal-hal berbau cinta di sini. Well, sejauh ini udah banyak yg terjadi. Dari mulai wisuda *akhirnya*, penuh drama percintaan dan tragedi keberangkatanku ke Jakarta *kerja di kompas tv & berangkat ke jkt itu bisa dicatat sebagai prestasi penghapusan idealisme terakbar sepanjang sejarah hidupku*. Jakarta, yeah well.. Year by year, day by day, hour by hour, minute by minute aku selalu bilang, 'SAY NO TO JAKARTA FOR ANY REASON!' Namanya manusia emang nggak boleh benci berlebihan, suka berlebihan serba berkelebihan krn Tuhan yah Dia memang Maha Becanda. Singkatnya, di sini lah aku sekarang. Bersama hiruk pikuk Kota Jakarta, segala kemacetan, keribetan, dan seluruh emosi jiwa yg tersalurkan di mana-mana bahkan di gang sempit sekalipun emosi justru makin merajalela. Kata idealisme berasa cuma disisain bagian -isme nya doank. But, we have to thankful for yeah any God's Plan.


Kerja di TV jelas donk nggak nutup kemungkinan buat ketemu artis, ketemu orang-orang penting pemerintahan & ketemu orang-orang pencari jati diri. Nggak bisa dibilang asik, tp jg nggak bisa dibilang nggak asik. Yang pasti aku nggak perlu mikir pake rok dgn sepatu aladin berhak tinggi kayak pegawai bank *FYI sepanjang tahun 2010-2011 bekerja di bank jadi trend dikalangan para fresh graduater setelah PNS. Diberbagai job fair terasa hambar rasanya kalo nggak ada satu aja nama bank nongol dispanduknya. Mgkn ada banyak pegawai bank yg pensiun dini setelah kasus century makanya pd buka lowongan kerja secara massive (band kaleee) atau PNS apapun lah itu ya BUMN atau kementerian something*


Sebelumnya yang udah baca seri pertama dan kedua tulisan ini mungkin sangat paham betapa aku nge-fans berat. Berat-seberat-beratnya barbell yang diangkat sama Aderai dan seberat orang patah hati karena hubungan yang nggak jelas ujung pangkalnya *malah curcol*. Intinya aku ngefans se-ngefans-ngefansnya sama yang namanya AFGAN SYAHREZA. Entah karena suaranya yang serak-serak basah atau karena kacamatanya yang bikin dia terkesan pinter *bukan berarti dia nggak pinter juga lho ya*. Apapun lah Afgan adalah pengalihan dari segala rasa patah hatiku ke cowok mana pun *walopun cuma dibayangin doank*. He has aura that makes me crush on him with any silly reason, titik! Tapi namanya orang ya kalau nggak ada tantangan ya kurang menantang *ya iyalah makanya ada kata tantang dalam kata menantang*. Dari mulai gagal ketemu pas nggarap acara anak kedoteran waktu kuliah dulu, aku udah nggak akan bermimpi, berpikir maupun berasumsi apapun bahwa mungkin suatu saat bakal ketemu sama Afgan. Dan Tuhan *lagi-lagi* punya rencana lain.


Berawal dari launching tv di mana sekarang aku bekerja. Aku dapet tugas di booth-nya next on. Well, kerjaanku adalah minta tolong ke para artis yang ngisi acara buat ngelakuin semacam hooker untuk acara selanjutnya. Simpelnya, mereka dimintai tolong buat ngasih penjelasan acara selanjutnya after break *ribet amat yak keterangannya, ya pokoknya gitu deh*. Sampai lah aku sadar dan mengerti apa makna dibalik kalimat yang lebih mirip kata-kata orang putus asa ini,


“Kalau jodoh nggak bakal ke mana.”


Dan di sana lah aku waktu itu, berdiri dengan tegap seperempat kikuk, seperenambelas nervous, dengan sisanya sok cool dengan mempertaruhkan id-card bertuliskan TRAINEE KOMPAS TV. Afgan cuma berjarak 10 cm. Tangan kami saling bersentuhan, mata kami saling menatap, bibir kami saling bicara. Damn! Ini Afgaaan! Afgaaaaannn!! Hatiku cukup lonjak-lonjak bagi para pekerja tv pemula kayak aku. If I’m nervous or do something stupid after this? Nope. Actually, Afgan nggak setampan yang aku liat di TV selama ini. Kacamatanya, suaranya. Dia hanya terlihat seperti laki-laki, lebih tepatnya anak laki-laki biasa. Mungkin aku emang nggak punya Panah Asmara yang bisa bikin dia merasa berterimakasih pada cinta atau membuat dia merasa memiliki cinta dua hati dan membuatnya sadis. Aku emang nggak secantik Olivia Jensen tapi serius, Afgan emang hanya manusia biasa. Bukan sesosok special yang bisa bikin aku teralihkan dari rasa sakit akibat patah hati berkepanjangan, karena saat memandang Afgan malam itu hanya ada bayangan orang yang telah membuatku patah hati sampai ngesot-ngesot di kamar mandi *mungkin di next post bakal diceritain lebih lengkap lagi*.


Kata cinta memang diciptakan Tuhan bukan hanya sekedar untuk nembak atau gombal-gombalan ala alay. Tapi Tuhan menciptakan kata itu untuk dirasakan, diresapi, dimaknai dan kenapa kata itu bisa menyakiti? Kata Mario Teguh, kalau kamu merasa sakit karena cinta sebenarnya bukan cinta yang bikin sakit tapi cara kamu mencintai.


Have a nice day everyone! :)

Comments