uhh.. ohh.. jangan berisik di bioskop!

"Eh, ntar malem ada premier film arisan 2 ni? Ayo cari tiketnya?"


"Gue rela antri deh demi Harry Potter. Hari pertama ini man!"


Banyak org yang rela berdiri berjam-jam, berdesak-desakan di bioskop cuma demi dapet tiket nonton film di hari pertama. Entah apapun alasannya, entah karena nggak mau kesaing sama orang lain dan bisa jadi orang paling up to date bab berfilman. But actually, aku termasuk orang yang nggak pernah merasa perlu untuk gabung sama mereka. Sesuka-sukanya sama satu film tetep aja nggak sampai segitunya berkorban demi dapet tiket nonton perdana.


Bioskop sekarang udah menjamur di mana-mana. Di setiap kota-kota besar, kota-kota sedang, menengah maupun kecil. Bioskop pun punya label harga berbeda disesuaikan dengan hari dan di mana bioskop itu berada. Yeah, ada harga ada kualitas juga. Walaupun sebenarnya di mana pun nontonnya, kayak apa kursi dan fasilitas yang didapat, film itu juga begitu-begitu aja. Nggak langsung film pocong paling norak sekalipun berubah jadi film setan se-mental Ju-On atau Ghostbuster. Di era modern, bioskop udah jadi satu tempat hiburan yang punya wajib kunjung. Entah apa motivasinya, tapi bioskop cukup sukses memberi kegiatan masyarakat di waktu senggang yang mereka miliki.


Kita patut berterimakasih pada Lumiere bersaudara yang punya ide cemerlang dengan mengkombinasikan kamera, alat memproses film, dan proyektor menjadi satu¹. Voila! Jadilah bioskop pertama kali dikenalkan ke publik pada tanggal 28 Desember 1895 di sebuah café yang ada di Paris. Mereka memasang layar di ruang gelap dan menyulap café menjadi mini bioskop. Kini bioskop makin berkembang dan menjadi lebih komersil.


Perkembangan bioskop pun sampai ke Indonesia. Berbagai macam istilah pernah dipakai, salah satunya adalah layar tancep. Ehmmm, kalau ditinjau lagi. Mungkin Lumiere bersaudara juga terinspirasi dari pertunjukkan wayang kuit di Jawa kali ya. Bedanya kalau wayang kulit nggak digerakin pakai teknologi sekelas Kinestoskop atau Sinematografis, tapi manual. Pakai tangannya si dalang. Hehehe..


Back to story, di Indonesia bioskop kini makin terlihat berkelas dan komersil. Bioskop 21 atau XXI perlahan-lahan telah menggeser bioskop-bioskop lokal yang ada di daerah-daerah. Apa bedanya? Kayak yang udah aku bilang diawal. Inti dari bioskop adalah tempat yang tersedia bagi siapapun yang ingin nonton film. Titik. Istimewanya? Di 21 atau XXI nggak bakal nemuin kecoak lari-larian di kursi atau tikus yang sekali-kali tolah-toleh di pinggir layar. Well, di Jogja perbedaan kasta bioskop memang terasa. Antara bioskop 21 dan *kita sebut aja bioskop non 21*. Bagi masyarakat Jogja, bioskop Mataram, Indra atau Permata dulu adalah primadona. Sekarang? Bioskop itu cukup puas jadi bioskop dengan label bisokop ‘mesum’, karena emang saking nggak lakunya yang diputer cuma film-film porno kelas 3.


Perkembangan bioskop yang begitu pesat *yang pasti sepesat perputaran uangnya* membuat bioskop memiliki kelas-kelas penyuka film tersendiri. 21 kini udah ada yang ber-“merk” XXI. Nggak cukup? Masih ada lagi seri Premier. 3 jenis bioskop ini perbedaannya cuma di fasilitas kayak kursi yang lebih nyaman, lebih lebar dan lebih duluan muter film plus harga tiketnya yang beda juga. Kini bioskop udah jadi tempat yang eksklusif. Bukan sekali dua kali kan liat gimana gaya orang yang mau nonton bioskop yang menurutku sih too much. Ada yang pakai gaun. Hell-o mbak ini nonton bioskop juga gelap-gelapan paling keliatan cuma pas antri beli tiket doank sama mau balik abis nonton. Lobby bioskop juga udah keliatan kayak ruang after party grammy awards. Di bioskop gaya orang memang beda-beda. Dari yang paling minimalis sampai yang terlalu maksimalis. Ada yang hobi nonton se-renteng pete rame-rame. Ada juga yang milih berduaan entah sama pacar, sahabat, TTM-annya, HTS-annya *curcol* atau sendiri. Well, dari sekian banyak kerumunan orang penyuka film ini aku memang yang paling cuek dengan memilih nonton film sendiri. Film buat aku tu kayak ibadah. Sangat egois untuk menunda atau terburu-buru pas nonton film. Saat mau nonton, detik ini juga ya udah nggak pakai nunggu-nunggu orang lain. Sekedar untuk menemani atau memang mau nonton beneran. Lagian nonton sendiri itu banyak manfaatnya daripada mudarat-nya. Pertama, kita bisa dapet tempat duduk paling atas padahal tinggal 5 menit tayang. Kedua, dengan nonton sendiri kita juga bisa celamitan ambil makanan tetangga sebelah yang lebih milih “bikin film” sendiri daripada nonton film *”pacaran” di bioskop itu kayak orang yang mau enak tapi nggak mampu bayar hotel* hehehe..


Mungkin tanpa kita sendiri sadar, kebiasaan di dalem bioskop itu juga banyak yang aneh. Aku udah masukin beberapa tipe orang dengan kebiasaan-kebiasaannya di bioskop.

  1. Tipe peneliti

Sering kan pas lagi di bioskop tiba-tiba ada suara.


“Apa? Dia tadi bilang apa?” dan “Kok, bisa sih dia mati? Kenapa?”


Lumayan ganggu ya saudara-saudara. Apalagi kalau suaranya kenceng banget dengan gerakan-gereakan heboh nggak penting.


  1. Tipe kameraman handal

“Kayaknya lebih bagus kalau ngambil gambarnya dari atas terus di pan ke kiri dikit.”


Yeah, itu sih komentar yang umum banget apalagi buat para anak kuliahan broadcast yang lagi ambil kelas sinematografi. Berasa paling oke mengkritik kayak tu orang bisa bikin film sekelas Hollywood.


  1. Tipe sutradara kelas tinggi

Ini orang yang komentarnya dominan dengan kata-kata:


“Ni ya, pasti dia yang jadi penjahatnya. Udah deh pasti. Keliatan banget dari gelagatnya.”


Atau


“Bentar lagi, dia bakal ke tembak terus sebelum mati dia bilang aku cinta kamu terus si ceweknya bakal nangis-nangis dna teriak bilang jangan matiiii.”


Hobi banget nebak jalur cerita film udah berasa kayak peramal aja yang tau rahasia Tuhan sebelum kejadian.


  1. Tipe pemamah biak


Pernah aku sebelahan sama orang tipe ini. Si oknum nonton sama temennya, sama-sama perempuan dan tiap beberapa detik sekali selalu kedengeran suara. “Kresssskkk. Kresssskkk..” Makaaaaaaan muluuuuu.. Entah mereka paham atau nggak sama filmnya. Sesekali aku sempet nengok ke arah si oknum dan ngarep banget dibagiin ciki-cikinya dan tetep aja mereka khusyuk makan.


  1. Tipe bintang film Hollywood


Nah, yang terakhir ni yang paling ganggu tingkat dewa. Tiap kali aku nonton sendiri memang bisa sesuka hati milih kursi di baris atas. Tapi pernah beberapa kali dapet kursi kejepit di 3 sebelum pojok. Sepanjang 110 menit aku bingung mau nonton madep ke depan apa ke samping. Karena 2 kursi pojok biasanya dipakai buat orang “pacaran”. Well, dan mereka bener-bener bisa sampe pangku-pangkuan, dan entah kenapa ada suara memcicit kayak tikus dan itu bikin orang nggak konsen nonton. Hal baiknya sih, aku jd bisa makanin pop corn yang teronggok bosan di pojokan karena yang punya nggak menjamah sama sekali.


Well, apapun yang dilakukan di bioskop. Please, jaga sikap karena itu juga tempat publik. Dan intinya nonton film bisa di mana aja kok. Jadi nggak perlu maksain diri buat nonton pas premier. Asli, karena nonton di awal pun nggak bakal dapet hadiah.


Have a nice Monday :)

Comments

ini mah pasti biang kerok ribut ya elo tis, secara emak dari segala keributan kan elo