Sebagai seorang perempuan, pasti kita punya mimpi. Pengen jadi astronot, jadi wanita karir, banker, dosen, fashion designer, dll. Tapi pernah nggak kepikiran, kalau sebagai perempuan kita udah punya jabatan permanen yang nggak bisa ditolak (atau bisa?). Sebagai seorang istri dan ibu.
Aku nggak dididik untuk menjadi ibu rumah tangga, menghabiskan waktu sebagai seorang istri yang hanya melayani suami dan menjadi seorang ibu yang hanya mengurus (include mendidik) anak-anaknya. Tapi pada akhirnya aku mengalah pada takdir yang memang tak sengaja tak ingin aku tolak.
Setidaknya aku masih punya suara, dan jika aku dibolehin bicara, aku pengen bilang gini ke keluarga calon jodohku nanti:
"Aku terlahir sebagai seorang anak tunggal, dengan orangtua yang suka bekerja. Sejak kecil, aku dididik untuk mandiri dan ga cengeng manja kalau ngadepin masalah. Sejak kecil pun aku mulai mengerti bahwa hidup tak seindah cerita Andersen. Cinderella, Snow White, Putri Tidur, itu ga nyata.
Aku diajari untuk tidak berkhayal tentang kehidupan yang indah setelah menikah. Pernikahan adalah teori yang hingga kini aku ga pahami. Aku lebih suka menghitung logaritma dan menghapal rumus percepatan cahaya dibanding harus menghadapi teori pernikahan modern.
Aku juga diberi pemahaman bahwa hidup harus diperjuangkan oleh diri sendiri. Papa selalu bilang,
"Kamu harus bisa mandiri karena kamu nggak punya siapa-siapa kalau papa mama nggak ada".
See? Aku berpikir tak ada hal lain selain matematika, mandiri, belajar, bekerja, dan punya uang sendiri. Sendiri. Kata kunci yang aku bawa sejak lahir, sejak takdir memilih aku terlahir menjadi seorang anak tunggal.
Berawal dari didikan orangtuaku, aku pun tumbuh menjadi perempuan mandiri, nggak minat pacaran karena memilih untuk traveling, nggak minat sama drama percintaan karena sesungguhnya hidupku udah cukup drama.
Maka aku sebagai perempuan punya cita-cita ingin sekolah yang tinggi, S1, S2, S3, pengen keliling dunia, jadi wanita karir dan terus bekerja. Tapi ada satu pemikiran baru. Aku bisa jadi semua itu, tapi aku sebagai perempuan tak bisa menolak dari takdirku sebagai istri dan sebagai ibu. Aku bisa berhenti bekerja, aku pun bisa istirahat dari petualangan keliling dunia, tapi aku ga bisa berhenti dan menolak menjadi seorang istri atau menjadi seorang ibu. Menikah bukan satu hal yang mudah untukku. Berbagi kehidupan adalah satu hal yang aku nggak kuasai, berkompromi pun aku nggak pandai. Tapi aku yakin semua pengorbanan -jika aku boleh bilang begitu- ini bagian dari ibadah yang harus aku jalani. Jadi aku berharap semoga suamiku kelak tidak kecewa sudah memilihku menjadi istrinya, anak-anak pun tak merasa kesal aku menjadi ibunya, dan semoga keluarga baruku nanti tak menyesal telah menjadikan aku bagian dari keluarga."
Comments
Aku memiliki beberapa kenalan yang memilih tidak menikah dan menikmati petualangannya sendirian hingga usia sudah kepala 5 :)