Cruise Ship Tour ala Taman Nasional Tanjung Puting

Tinggal diperkotaan, kalau libur pasti nggak jauh dari mall, mall lagi, mall lagi. Terus ngarep ada diskon tiap minggu biar bisa selalu belanja tanpa beban. Bosen nggak sih? Biasanya kalau liburan ketemu orang kali ini boleh lah cobain rasanya ketemu orang, tapi bukan sembarang orang, karena liburannya ketemu orang utan. Taman Nasional Tanjung Puting tempat dimana habitat orang utan bisa jadi salah satu list liburan di tahun 2017.


Perjalanan ke Taman Nasional Tanjung Puting

Kalau dari Jakarta, kita cukup membeli tiket pesawat dengan jurusan Jakarta – Pangkalan Bun. Begitu sampai di bandara Iskandar, Pangkalan Bun, kita langsung aja meluncur ke Pelabuhan Kumai yang berjarak sekitar 1 jam. Taraaaa… sampai di Pelabuhan Kumai kita akan langsung disambut sama guide dan kapal yang siap antar kita ke dalam hutan untuk ketemu orang utan.

Pintu Masuk Taman Nasional Tanjung Puting


Kebetulan waktu itu saya bersama guide bernama Joe. Walaupun namanya kebule-bulean tapi dia asli orang Indonesia. Biar sekalian kayak bule saya panggil dia Uncle Joe. Uncle Joe ini orangnya seru. Dia akui kalau hanya lulusan SD tapi jangan kaget kalau dia jago banget berbagai macam Bahasa asing. Dari mulai Bahasa Inggris, Prancis, sampai Spanyol. Menurut Uncle Joe ia jadi fasih berbahasa asing karena banyaknya wisatawan mancanegara yang datang bahkan Julia Roberts, Michael Szcumacher sampai mantan presiden Amerika Serikat Bill Clinton aja pernah lho mampir ke Taman Nasional ini.

Crew Kapal: (ki - ka) Ferry Fotografer - Yomie (Pemilik Kapal sekaligus Ketua Tourism Organization TNTM Tanjung Puting) - Uncle Joe (Guide)


Selama berlibur di Taman Nasional Tanjung Puting kita akan menaiki kapal klotok. Kapal ini mampu menampung 12 orang. 5 orang crew kapal dan 8 orang lainnya wisatawan. Tapi kalau kita mau berlibur secara esklusif hanya dengan 2 atau 3 orang saja juga tak jadi masalah.

Kali ini saya memilih paket lengkap dengan tujuan Tanjung Harapan, Pesalat, Pondok Tangguy dan Camp Leakey. Bonusnya diakhir perjalanan saya mampir ke pantai Tanjung Keluang. Selama 3 hari 2 malam saya akan menghabiskan waktu di kapal klotok, menyusuri Sungai Sekonyer dalam misi bertemu Orang Utan!


Rehabilitasi Orang Utan

Bersyukur sekali wilayah rehabilitasi orang utan kini berada di bawah pengawasan Taman Nasional. Kalau tidak, wilayah ini pun telah habis dijadikan lahan perkebunan kelapa sawit. Lama-kelamaan habitat orang utan pun akan berkurang jika tidak ada ruang bagi mereka untuk hidup dan berkembang biak. Selama perjalanan menyusuri Sungai Sekonyer, kita akan disuguhi oleh pemandangan hutan dan berbagai makhluk yang hidup di dalamnya. Tau donk ya logo Dunia Fantasia tau Dufan? Hewan bernama bekantan. Nah ini aslinya bisa banyak kita temui di sini. Dan jangan salah, Sungai Sekonyer walaupun tampaknya tenang tapi di dalamnya banyak buaya ganas, jadi kita harus berhati-hati selama melakukan perjalanan di sini.

Sungai Sekonyer

Perjalanan ke tempat rehabilitasi Orang Utan


Pemandangan selama perjalanan


Sekumpulan Bekantan


Tempat rehabilitasi orang utan di sini terbagi menjadi 3. Tanjung Harapan, Pondok Tangguy dan Camp Leakey. Di tempat rehabilitasi, wisatawan dapat melihat orang utan dari jarak aman. Paling seru kan kalau lihat bagaimana hewan sedang makan. Nah itu menjadi salah satu tontonan yang diharapkan para wisatawan saat berkunjung ke Taman Nasional ini. Meski begitu, menurut Uncle Joe, ranger atau para pawang orang utan di sini berharap tak ada lagi orang utan yang datang saat jam makan. Karena dengan begitu orang utan sudah bisa dilepas dan survive di habitat asli mereka tanpa dibantu para ranger untuk makan.


Papan Informasi di pintu masuk Camp Leakey


Salah satu sudut jalan menuju tempat rehailitasi (kayak efek cermin ya!)



Kabut asap tidak menjadi kendala bagi wisatawan untuk datang


Feeding Time

Camp Leakey merupakan pusat penelitian dan konservasi orang utan tertua di dunia. Didirikan pada tahun 1971 oleh Doctor Biruté Galdikas dan Rod Brindamour. Nama Camp Leakey sendiri diambil dari nama ahli paleo antropologi, Louis Leakey. Beliau merupakan mentor yang menginspirasi Doctor Birute. Di Camp Leakey terdapat Pusat Informasi tentang orang utan. Nggak Cuma manusia aja lho yang punya raja, tapi orang utan juga punya. Raja Hutan ini bernama Tom. Butuh keberuntungan tinggi kalau mau ketemu sama Tom karena memang dia munculnya tak sembarang waktu. Tom ini cukup terkenal lho, bahkan Julia Roberts saat datang ke sini sempat heboh karena tiba-tiba Tom muncul di belakang Julia dan langsung memeluk artis asal Amerika ini. Guide dan ranger pun berusaha menenangkan Tom karena takut Tom akan menyeret atau memukul Julia Roberts. Tapi untungnya Tom hanya merangkul lalu pergi.


Tom sang raja Orang Utan



Fakta dari orang utan:

1.       Orang utan meski sudah ada makanan tersedia mereka tetap antri dan menunggu giliran satu persatu tanpa berebut.
2.      Mereka memiliki kecerdasan hampir sama dengan manusia.
3.      Jangan meremehkan kekuatan orang utan. Untuk orang utan betina memiliki kekuatan serupa 5x lipat dari kekuatan manusia normal dan untuk orang utan jantan memiliki kekuatan 9x lipat dari kekuatan manusia normal. Kebayang kan kalau diajak toss sama orang utan kita bisa kepental berapa meter tuh.


Do’s and Don’ts

1.       Nggak boleh berisik saat orang utan makan. Kita aja kalau lagi makan kan nggak mau diganggu, orang utan pun begitu.
2.      Harus lapor ke pintu masuk biar ke data ada berapa wisatawan yang berada di dalam tempat rehabilitasi. Biasanya sih guide udah otomatis mengurus adminitrasi ini.
3.      Kalau nggak sengaja nih pas kita jalan ketemu orang utan, jangan bergerak dengan cepat, harus tetap tenang, mundur perlahan hingga berjarak 5 hingga 10 meter dan agak sedikit menunduk hormat ke orang utan.
4.      Jangan jalan sendirian harus bergerombol dan tetap ikuti arahan guide ya.


Berlibur di Taman Nasional Tanjung Puting
Serunya, selain kita bisa ketemu orang utan, di Taman Nasional Tanjung Putting kita juga akan disuguhi pemandangan alam tenang dan menyegarkan. Minta guide untuk mengajak kita bermalam di Pesalat karena di sana kita akan bertemu dengan para kunang-kunang yang bergemerlapan. Di Pesalat kita juga akan melihat jamur glow in the dark. Paginya kita bisa berjalan-jalan ke dalam Pesalat dan melihat beragam tanaman obat yang bermanfaat bagi kita. Perjalanan saya di Tanjung Puting bertambah seru karena bertemu dengan guide yang lucu dan masakan yang enak.

Kapal Yomie yang saya naiki




Penampakan Interior Kapal Klotok


Kapal Wisatawan






Pintu masuk ke Pesalat





Glowing Mushroom
Pantai Tanjung Keluang

Pantai ini terletak di dekat Pelabuhan Kumai. Jadi cocok untuk dikunjungi selepas kita bertualang di dalam hutan. Selain kita disuguhi pantai berpasir putih, kita juga bisa melihat penangkaran penyu. Kalau mau kita bisa juga jadi orang tua asuh penyu dan melepas tukik ke laut lepas.

Pantai Tanjung Keluang





Pantai Tanjung Keluang

Tukik atau anak penyu





Tips dan Saran
1.       Sebelum berangkat ke Taman Nasional Tanjung Puting wajib cek dulu kondisi cuaca di sana. Karena beberapa tahun terakhir Pangkalan Bun sering tertutup kabut asap pada bulan-bulan tertentu.
2.      Hubungi guide dan kapal yang akan membawa kalian menyusuri Sungai Sekonyer sebelumnya. Bisa juga menghubungi Mas Yomie. Tentukan juga mau kemana selama di Taman Nasional Tanjung Puting. Yomie: 0813 5273 6054 atau Uncle Joe: 0813 5279 2419.
3.      Meski selama perjalanan kita dapat makan, tetap harus siapin perbekalan yang penting dan personal karena di hutan nggak ada yang jual es krim walls atau indomie. Bisa aja yee kan lagi di sono ngidam kepengen makan itu.
4.      Pakai baju yang nyaman karena di sana udaranya lembab banget tapi kalau malem dingin.


Biaya
1.       Sewa kapal dan guide include makan sehari 3x selama 3 hari 2 malam dengan kapasitas maksimal 8 orang: Rp 12jt
2.      Administrasi Rp 10rb – 20rb
3.      Melepas tukik atau anak penyu Rp 50rb

4.      Sewa mobil antar ke Pelabuhan Kumai dari bandara Rp 200rb – 300rb

Comments